Rabu, 03 Agustus 2011

Dikeramaian waktu rotasi hidupmu 
Pecahan emosi tertuang kembali membias restunya 
Seutas bahagiaku cerminan tatanan cinta 
Seolah terisolasi ditempurung janji Sangkar Bakti 
Sebait nada-nadaku bercak cinta tulus suciku 
Kupersembahkan hanya untukmu 
*Selamat ulang tahun 
Dandani hadirnya masa remaja 
Semoga panjang umur 
Beri arti jejak langkah mudamu 
Petuah bijak tersedia 
Rangkum dalam jiwa 
Seberkas masa lalu 
Berita progresmu 
Kelopak masa depan 
Sebait nada-nadaku bercak cinta tulus suciku 
Kupersembahkan hanya untukmu 
*Selamat ulang tahun 
Dandani hadirnya masa remaja 
Semoga panjang umur 
Beri arti jejak langkah mudamu
  A song by DEWA 19 -Selamat Ulang Tahun
 
    Nice,yeahhh !! itulah penggalan dari lirik lagu dewa 19,jadul,
tapi harus ngaku kalo saya diem2 penggemar :p,yaa walaupun baru
saja saya download barusan dari PC saya,gak taunya memancing 
gairah emosi saya buat nulis di entri baru :). 4 Agustus 2011,2011
sesosok wanita..llhoo,horor jadinya maksut saya seorang wanita 
bernama lengkap "anggiah dwi darmayanthi"  pacar yang nyebelin,
kdg ngegemesin,kdg bikin mangkel,yang apa adanya,yang blak-
blakan,bukan (joni) iklan ax*s,pokoknya yang super,dupel sangat dan
teramat cantik & baik hati iyaaa dong cewe gue gitu lohh :p..merayakan 
hari jadi kelahiranya,usia dua puluh,kalo dibilang muda 
ya msi muda bgt,kalo dibilang tua tapi udah kepala 2hehe piss bebb.
   Berawal malem-malem gara2 belajar MS tapi ga masuk2 otak sangking kebangetan susahnya,
mana ditambah himpitan orang tua yang terus-terusan minta nilai perfect padahal anaknya pas-
pasan,membuat saya belajar giat,kalo diumpamain otak saya sekarang seperti kenalpot,ngebull,
membuat si doi agak sedikit dilupakanmenurut dia gitu,tapi saya enggak,huh dan akhirya ditemani teman 
seperjuangan yang janji mau bilang nemenin gue,tapi ngorok uteke bosookk :p ya gitu deh inisial C,
buat temen dts pasti tau,ternyata lebihh enak ng-note daripada ngitung rumus momen inersia.
  Sayang,Senang,Kagum,gak nyangka :) malam ini itulah gambaranya,gak nyangka kamu ulang taun 
ya bebb,yang dulu baru punya rambut kunciran,sekarang digerai smuting kalo bahasa salonya cinn,
yang dulu agak gendut subur,sekarang langsing seperti bintang hollywood,:D,berharap semakin 
dewasa dengan segala semangatnya sifat pantang menyerahnya dan ga mudah takut,sampe2 saya
yang takut.semoga kamu makin berguna untuk tiap orang yang membutuhkan kamu :)hope.
  When your twenty :)
   Hanya doa,harapan dan keinginan saya yag malam ini saya kirimkan kepada yang punya jagat 
raya,berharap di hari jadi kamu makin terus sukses dan berkibar tinggi layaknya bendera :),bukan 
untuk jadi wanita yang terbaik,hanya wanita yang lebih baik for you,others,and all,tetap yang terbaik
di hati saya,dan itu pastinyahh :p.
 Jujur kalo saya pria mahasiswa penghuni kampus yang engga tau kapan lulus dan masih bingung 
mikir masa depan,tapi salah satu sudut di hati ini punya nilai lebih
dibanding segalanya yang ada,yaitu hati berisi kamu :),gila keren bahasa gue:D dan tapi itulah
kenyataan yang ada because i will always be so :)
  Selamat ulang tahun my lovely girl yang udah hampir 3 tahun kita lewatin berdua,tambah dewasa,
makin sukses dalam segala hal,wish u all d'best,best life,best health,best career,n best2 yang lainya
semoga Allah melimpahkan rahmat dan kebahagiaan buat dirimu.
  Dan sekarang saya lagi-lagi iri  karena ga seperti cowo2 diluar sana yang bisa ngasih surprise.hoahh
 karena selain saya takut si doi kaget terus nyiram saya,saya lebih 
suka apa adanya, hehe. 
Twenty  again :)
  Lovely msg for a lovely person
  From lovely Dear
  For a lovely Reason
  At a lovely Time
  From a lovely Mind 
  In a lovely Mood
  In a lovely Style
  To wish you
  "HAPPY BIRTHDAY" :) 
 
selamat ulang tahun sayang :)dedicated for you 
anggiah dwi darmayanthi special person 
 
 
 

Senin, 01 Agustus 2011

Benarkah Kita Memang Mencintai Sepakbola ?

Benarkah Kita Memang Mencintai Sepakbola?

     “Yusuf, ceritakan pada saya tentang tim impian yang tadi ada di filmmu?” maka berkisahlah saya sekilas tentang Persija yang para pendukungnya saya abadikan ke sebuah karya dokumenter. Malam itu The Jak baru saja merebut kategori Dokumenter Panjang terbaik di Thessaloniki International Film Festival 2007 dan Theofanis adalah pejabat festival yang menyebut dirinya sebagai fans berat Olympiacos.

       Lelaki berkacamata itu hanya sekilah mengetahui Indonesia, ia hanya memahami bahwa sepupunya pernah bertugas di Singapore yang terletak tak jauh dari Indonesia. Ia sama sekali tak tahu bahwa di negeri tempat saya lahir itu Sepakbola begitu dicintai dan dipuja setengah mati. Maka mendongenglah saya kepadanya dan karena kisah-kisah saya menggambarkan betapa dahsyatnya atmosfer pertandingan di tanah air, tak segan pula saya untuk sekalian saja memanipulasi data bahwa kitalah yang terhebat di Asia Tenggara dan liga kita adalah tujuan banyak pemain papan atas di Asia Tenggara.

       Saya memang berasal dari negeri yang tak masuk akal. Negeri dengan tanah yang subur namun sama sekali tidak mampu menyejahterakan rakyatnya. Negara agraris yang bahkan lulusan Institut Pertaniannya lebih suka jadi wartawan daripada jadi petani, negeri bergaris pantai terpanjang di dunia program eksplorasi pantai baru dicanangkan beberapa hari lalu……negeri yang lautannya membentang di sana sini namun seumur-umur teman-teman saya yang bapaknya nelayan saja tidak tertarik untuk juga menjadi nelayan. Negeri yang hukum dan keadilan bisa disesuaikan dengan kalimat “Damai aja ya pak,”

       Saya takut Theo mati berdiri jika sadar bahwa di negeri saya yang katanya gila bola itu, yang para pendukungnya rela mati atau bahkan tak bawa uang demi timnya itu jumlah pemain profesionalnya sangat sedikit. Bisa jadi juga dia akan jantungan setelah menyaksikan betapa gempitanya dukungan pendukung Persija pada timnya namun tim itu punya lapangan latihan saja tidak….asetnya saja konon hanya beberapa komputer di kantor secretariat. Stadion? Ah saya malas membuat ia berpikir bahwa piala yang saya pegang di tangan itu adalah hasil membuat kisah fiksi bukan dokumenter.

       Sepakbola digemari setengah mati di negeri ini. Siaran langsung Sepakbola adalah bentuk pencitraan paling strategis yang dilakukan oleh stasiun-stasiun televisi. Pemandu acara dan komentatornya adalah duta besar stasiun televisi yang bersangkutan. Setiap siaran langsung yang disiarkan tak peduli tayang di jam berapa adalah magnet kuat bagi masyarakat Indonesia untuk rela melek di depan si layar datar.

       Namun cuma sampai disitu saja, segala kegilaan itu tak pernah diikuti oleh pencapaian riil di arena sesungguhnya. Bagai juara Winning Eleven yang tak bisa menendang bola, kecintaan kita pada Sepakbola berhenti pada segala bentuk fanatisme—baik yang nyata maupun yang semu—pada permainan ini. Praktis prestasi tertinggi kita hanyalah ajang regional SEA Games yang memang sejak era 1950an selalu sulit kita taklukkan…..anehnya banyak orang merasa bahwa kita adalah macan Asia, padahal masuk Piala Asia saja kita tak pernah di era itu.

       Jujur, saya tak yakin bahwa kita sebenarnya memahami apa itu Sepakbola. Sama seperti kita tak bisa memahami lautan yang luas bersama habitatnya serta tanah yang luar biasa subur anugerah Tuhan selama ini. Kita hanya tahu bahwa ada sesuatu yang kuat bernama Sepakbola, seperti kegagalan kita memahami kesuburan tanah di Nusantara, kita juga gagal memahami bahwa kecintaan dan fanatisme pada permainan ini adalah modal besar yang bisa membawa Sepakbola kita kearah manapun yang kita mau.

       Kita berhenti pada pujaan orang asing “Negeri Anda punya potensi Sepakbola yang besar,” atau “Suatu hari Indonesia akan menjadi negara yang kuat,” atau “Saya tak pernah melihat bakat sebanyak ini di negara lain selain di Indonesia,” dan segala puja-puji basa basi kancut meong khas imperialis yang bahkan sudah ayah saya dengar saat ia masih bujangan

       Jika memang kita hebat, kenapa tak satupun pemain kita bermain di liga atas Eropa, kenapa juga di level Asia saja kita kerap jadi bulan-bulanan dan jika memang kita negeri Sepakbola mengapa menjadi juara Asia Tenggara saja kita cuma bisa mimpi sembari mengisap jempol ini.

       Apa iya kita mencintai Sepakbola seperti yang tergambar di keriuhan Stadion-Stadion itu? Apa iya kita ini gila dan memahami permainan itu seperti segala diskusi yang kita ucapkan serta segala kritik yang kita berikan pada aksi-aksi mega bintang dunia di siaran langsungnya yang bisa kita nikmati secara gratis di televisi rumah kita. Apa iya kita negeri Sepakbola?

      Saya kok yakin sebenarnya tidak. Kita ini hanyalah bangsa yang kebingungan mencari identitas dirinya, kita ini menggilai Sepakbola dan rela mati karenanya hanya karena kita butuh eskapisme semu akibat kegagalan hidup kita sebagai sebuah negara multi etnis yang dipersatukan oleh sebuah Republik. Jikapun ada yang pandai bermain Sepakbola, bisa jadi itu hanya karena permainan ini memang permainan paling sederhana, dengan jumlah peraturan tersedikit dibandingkan permainan lain….bonus menendang dan berlari adalah insting sederhana manusia.

       Tak cukupkah setiap minggu kita menyaksikan Liga Eropa yang megah itu untuk bisa mengopi segala kelebihan mereka ke dalam Sepakbola kita? Atau seapesnya bisa menjadikannya sekedar industri yang bisa menggerakkan unsur ekonomi lainnya yang berujung pada kemenangan tim nasional. Tak cukupkah segala keterbukaan via internet, buku asing yang diimpor atau bahkan kedatangan para bintang Eropa itu kesini untuk dijadikan acuan kemampuan…..dan bukan sekedar ajang tanya jawab dengan pertanyaan standar “Bagaimana menurut Anda Sepakbola Indonesia?” atau “Apakah Anda mau bermain di Indonesia?”

       “Sepakbola adalah refleksi sebuah bangsa,” ujar Franz Beckenbauer, salah satu kutipan favorit saya. Bukan karena diucapkan olehnya dari jarak hanya sekitar 5 meter dari saya atau juga bukan karena dikutip juga oleh ebook ini. Kalimat bermakna luas itu betapa menggambarkan ketololan demi ketololan yang menghinggapi bangsa ini. Mulai dari ketidak mampuan mengurus kesuburan alam serta potensi rakyatnya sampai ke bentuk ketololan berjamaah untuk memilih Presiden hanya karena ia korban rejim terdahulu….atau kebodohoan tingkat tinggi untuk percaya seorang pelarian mau kabur ke negara modern penuh shopping mal yang praktis membuatnya menjadi mudah dicari (bahkan di film Hollywood saja seorang pelarian akan menyepi dan menjauh dari keramaian)

       Seragam-kaos-ahmad-bustoni-dan-tim-nasional-indonesia-by-nike-football.Tak usah heran bila kita tak mampu mengurus Sepakbola, jika mengurus negeri indah ini saja tak mampu. Jika menjual pariwisata Timur Indonesia yang luar biasa itu saja tak mampu, jangan heran jika kita lalu tak juga mampu menciptakan industri Sepakbola yang benar, yang bahkan sebenarnya dipahami oleh siapapun…..bahkan oleh seorang Hasby penulis buku ini yang lulus kuliah saja belum.

       Apakah benar kita mencintai Sepakbola? Apakah benar kita punya niat baik kepadanya, menjadikannya sumber kebahagiaan dan kebanggaan bangsa? Jika jawabannya iya, saya yakin jikapun bangsa ini harus terus nungging dan tiarap…setidaknya biarkanlah rakyat bisa percaya bahwa setiap empat tahun sekali kita bisa menyaksikan 11 lelaki berlogo Garuda di dadanya itu bermain di ajang tertinggi permainan ini.

       Punyakah kita hasrat sebesar itu? Ataukah hasrat itu harus selalu mati dengan cepat oleh kerakusan atas uang dan kebodohan atas makna kata politik?

sumber:
http://andibachtiar.blogdetik..com/2.../?query-string
mastsuyam is offline Add to mastsuyam's Reputation Report Post Report Post     Multi-Quote This Message

Mengapa Cinta Itu Buta ?? (gue juga ga tau)

Mengapa Cinta Itu Buta ????yeahhh !

     Pada masa dulu, sebelum dunia diciptakan seperti yang kita kenal sekarang, dan manusia belum lagi menginjakkan kakinya di sana, semua sifat kebaikan dan kejahatan berkeliaran tak tentu arah dan merasa bosan, tak tahu apa yang hendak dilakukan.
Suatu hari, mereka berkumpul dan merasa lebih bosan lagi daripada sebelumnya, sampai ketika Kecerdikan mengemukakan usul :"Mari kita bermain petak umpet." Mereka semua menyukaiide tsb, dan secara tiba2. Madness/Kegilaan berteriak: "Aku ingin menghitung, biar aku saja yang menghitung!"
    Dan karena tidak ada yang cukup gila untuk ingin mencari kegilaan, semua yang lain setuju saja. Kegilaan segera bersandar kepohon dan mulai menghitung, "Satu, dua, tiga..."
Sementara Kegilaan menghitung, semua sifat kebaikan dan kejahatan tsb bersembunyi. Kelembutan menggantung dirinya di ujung bulan, Pengkhianatan bersembunyi di tumpukan sampah. Kasih sayang bergulung di antara awan, dan Nafsu Kegairahan pergi ke tengah2 bumi. Kebohongan berkata akan bersembunyi di bawah batu, tapi ternyata justru bersembunyi di dasar danau. Sementara itu, Ketamakan masuk ke dalam kantung yang kemudian ternyata dirobeknya karena kantung itu dirasanya tidak nyaman.
    Dan Kegilaan masih terus menghitung, "Tujuh puluh sembilan, delapan puluh, delapan puluh satu..." Ketika itu, semua sifat tsb telah bersembunyi --- kecuali Cinta. Seperti Keragu - raguan, demikianlah cinta, dia tak bisa memutuskan kemana harus bersembunyi.
Dan ini tentu tidak mengejutkan karena kita semua tahu betapa sulitnya menyembunyikan cinta. Pada saat Kegilaan sampai pada hitungan ke-99, Cinta segera melompat bersembunyi ke kebun bunga Mawar. Dan dengan bersemangat Kegilaan berbalik dan berteriak, "Bersiaplah, ini aku datang! Akan kutemukan kalian semua"
     Kemalasan adalah yang pertama ditemukan, karena dia bahkan tidak punya energi untuk mencoba bersembunyi, disusul oleh Keragu- raguan, yang masih mondar-mandir karena tak tahu ke mana harus sembunyi.
Kemudian, secara hampir beruntun Kegilaan segera menemukan Kelembutan di ujung bulan, Kebohongan didasar danau dan Gairah di tengah2 bumi. Satu persatu Kegilaanmenemukan mereka semua, kecuali lagi2 Cinta. Kegilaan mulai menjadi semakin gila, karena putus asa untuk menemukan Cinta.
     Tapi Kecemburuan yang iri pada Cinta yang belum juga ditemukan, berbisik pada Kegilaan, "Kau hanya perlu mencari Cinta, dan dia bersembunyi di semak bunga Mawar." Kegilaan mengambil garpu taman dan menusuk2annya serampangan kearah semak Mawar. Dia terus menusuk nusuk sampai terdengar suara tangis memilukan yang membuatnya berhenti. Cinta keluar dari persembunyiannya sambil menutup mukanya dengan tangan. Di antara jari - jarinya mengalir darah segar yang ternyata berasal dari kedua belah matanya.
     Kegilaan yang terlalu bersemangat untuk menemukan Cinta, tanpa sengaja telah melukai Cinta. "Apa yang telah kulakukan!" teriaknya menyesal. "Aku telah membuatmu buta! Bagaimana aku harus memperbaikinya?" Cinta menjawab, "Kau tak mungkin memperbaikinya. Tapi kalau kamu bersedia melakukan sesuatu untukku, kamu bisa menjadi penuntunku."
      Dan semenjak itulah, Cinta itu buta namun dia bisa melihat dalam kegelapan, karena dia selalu didampingi oleh Kegilaan.