Jalan Macet, Kok Motor yang Ditindas?!
Jakarta.. Jakarta.. makin hari makin aneh..
Kemacetan di Jakarta memang bagai kanker stadium sekarat. Hampir setiap sudut jalan kena macet. Berangkat dari Blok M ke Hotel Indonesia (Bundaran HI) menghabis waktu 1,5 jam padahal normalnya 20 menit. Bahkan bagi para komuter, pekerja jakarta tetapi tinggal di kota satelit kayak Bogor, Depok, Bekasi, bisa menghabiskanwaktu bolak-balik di jalan lebih besar dari waktu kerja sehari. Kalau anda berangkat dari Bogor (Darmaga) dan kerja di Jakarta, maka butuh 3 jam waktu berangkat dan 3 jam untuk pulang, total 6 jam. Bandingkan dengan waktu kerja efektif pekerja biasanya dalam kisaran 5-6 jam dalam sehari. Jadi waktu yg terbuang karena macet hampir sama besar dengan waktu kerja (waktu produktif)
Kerugian akibat kemacetan ini di Jakarta mencapai Rp 12,8 Trilun per tahun. Bayangkan uang sebesar itu hanya terbuang menjadi asap knalpot di jalanan.
Nah. . untuk mengurangi kemacetan ini.. entah dapat “wangsit” dari mana.. tanpa melakukan kajian/penelitian ilmiah terlebih dulu.. tiba-tiba Fauzi Bowo (Foke) dan jajarannya di Pemda DKI Jakarta merencanakan pembatasan Motor di jalan-jalan Jakarta pada jam-jam tertentu. Alasannya karena Motor dianggap biang kerok kemacetan. Huuhhh.. lagi-lagi rakyat kecil disalahin. Padahal mobil lebih boros pemakaian badan jalan karena ukurannya lebih besar. Satu mobil sebanding dengan 4 motor. Belum lagi isi penumpang mobil sering kita lihat hanya 1 orang. Jadi kebijakan ini jelas mengada-ngada dan merugikan rakyat kecil yang mengandalkan motor sebagai transportasi utama.
Lebih parahnya lagi, kebijakan ini akan mulai diberlakukan setelah lebaran 2010 ini, tanpa melalui proses sosialisasi dan meminta masukan dari masyarakat. Huhhh!
Solusi Mengurangi Kemacetan
Mengatasi kemacetan pada kota yang tata kota-nya telah berantakan seperti di Jakarta memerlukan solusi yang cerdas. Belajar lah ke negara-negara yang telah sukses mengurangi kemacetan, bukan hanya bisa studi banding ke eropa sambil belanja-belanja. Berikut beberapa solusi kemacetan yang saya rangkum :
Kemacetan di Jakarta memang bagai kanker stadium sekarat. Hampir setiap sudut jalan kena macet. Berangkat dari Blok M ke Hotel Indonesia (Bundaran HI) menghabis waktu 1,5 jam padahal normalnya 20 menit. Bahkan bagi para komuter, pekerja jakarta tetapi tinggal di kota satelit kayak Bogor, Depok, Bekasi, bisa menghabiskanwaktu bolak-balik di jalan lebih besar dari waktu kerja sehari. Kalau anda berangkat dari Bogor (Darmaga) dan kerja di Jakarta, maka butuh 3 jam waktu berangkat dan 3 jam untuk pulang, total 6 jam. Bandingkan dengan waktu kerja efektif pekerja biasanya dalam kisaran 5-6 jam dalam sehari. Jadi waktu yg terbuang karena macet hampir sama besar dengan waktu kerja (waktu produktif)
Kerugian akibat kemacetan ini di Jakarta mencapai Rp 12,8 Trilun per tahun. Bayangkan uang sebesar itu hanya terbuang menjadi asap knalpot di jalanan.
Nah. . untuk mengurangi kemacetan ini.. entah dapat “wangsit” dari mana.. tanpa melakukan kajian/penelitian ilmiah terlebih dulu.. tiba-tiba Fauzi Bowo (Foke) dan jajarannya di Pemda DKI Jakarta merencanakan pembatasan Motor di jalan-jalan Jakarta pada jam-jam tertentu. Alasannya karena Motor dianggap biang kerok kemacetan. Huuhhh.. lagi-lagi rakyat kecil disalahin. Padahal mobil lebih boros pemakaian badan jalan karena ukurannya lebih besar. Satu mobil sebanding dengan 4 motor. Belum lagi isi penumpang mobil sering kita lihat hanya 1 orang. Jadi kebijakan ini jelas mengada-ngada dan merugikan rakyat kecil yang mengandalkan motor sebagai transportasi utama.
Lebih parahnya lagi, kebijakan ini akan mulai diberlakukan setelah lebaran 2010 ini, tanpa melalui proses sosialisasi dan meminta masukan dari masyarakat. Huhhh!
Solusi Mengurangi Kemacetan
Mengatasi kemacetan pada kota yang tata kota-nya telah berantakan seperti di Jakarta memerlukan solusi yang cerdas. Belajar lah ke negara-negara yang telah sukses mengurangi kemacetan, bukan hanya bisa studi banding ke eropa sambil belanja-belanja. Berikut beberapa solusi kemacetan yang saya rangkum :
- Menambah ruas jalan di perkotaan, sehingga laju pertumbuhan jalan bisa mengikuti jalan pertumbuhan jalan. Keterbatasan lahan untuk jalan jangan dijadikan alasan, karena jalan bisa dibangun melalui sistem terowongan atau jalan layang untuk kota yang lahan tanahnya terbatas. Bisa saja satu ruas jalan dibikin beberapa tingkat, ini yang dilakukan oleh pemerintah Jepang.
- Mengoptimalkan penggunaan kendaraan umum. Pemerintah punya kewajiban menyediakan fasilitas umum yang murah dan nyaman bagi masyarakatnya. Lakukan peremajaan terhadap bis-bis umum yang sudah tua, yang sering mogok dan menyebabkan kemacetan. Optimalkan operasional Busway sehingga daya angkut menjadi maksimal. Adopsi moda angkutan modern seperti monorel, subway, dan angkutan penumpang lainnya.
- Batasi kendaraan (mobil) pribadi yang hanya membawa satu penumpang. Ini membuat kepadatan jalan semakin besar dan menyebabkan kemacetan.
- Batasi usia kendaraan pribadi dan kendaraan umum. Kendaraan yang sudah tua sering mogok dan menyebabkan kemacetan. Selain itu, kendaraan tua menghasilkan polusi udara yang lebih parah. Usia kendaraan ideal maksimal 20 tahun.
- Ciptakan jalan khusus motor, sehingga pengguna motor yang notabene
adalah masyarakat kecil tetap bisa beraktifitas dengan nyaman. Jalur
motor ini dibangun di pinggir setiap jalan utama dan hanya butuh selebar
1,5 meter. Penyediaan jalur khusus motor ini telah dilakukan oleh
pemerintah Malaysia, Thailand, Vietnam dan terbukti bisa mengurangi
kemacetan. Selain itu berhasil menekan angka kecelakaan lalu lintas
hingga 80%. Saat ini di Malaysia, angka kecelakaan motor hanya 1 orang
untuk 1 tahun.. woww.
Jalan Khusus Motor
- Menyediakan ruang Advanced Stop Line (ASL) yaitu pada setiap persimpangan jalan, garis henti (stop line) ditarik mundur beberapa meter dan diberi warna beda (misalnya merah). Ruang tersebut digunakan oleh sepeda dan motor menunggu giliran lampu hijau.
- Ciptakan jalur khusus pejalan kaki dan sepeda. Jalur pedestarian dan
sepeda ini selain berfungsi untuk kenyamanan pekerja kantoran menuju
tempat kerja, juga mendukung pendapatan pariwisata. Karena umumnya
orang-orang asing (bule) lebih suka jalan kaki atau bersepeda menuju
objek wisata. Ini yang sukses dilakukan oleh pemerintah Belanda.
Jalur khusus Sepeda
