Minggu, 15 April 2012

Jalan Macet, Kok Motor yang Ditindas?!

Jalan Macet, Kok Motor yang Ditindas?!

Jakarta.. Jakarta.. makin hari makin aneh..
Kemacetan di Jakarta memang bagai kanker stadium sekarat. Hampir setiap sudut jalan kena macet. Berangkat dari Blok M ke Hotel Indonesia (Bundaran HI) menghabis waktu 1,5 jam padahal normalnya 20 menit. Bahkan bagi para komuter, pekerja jakarta tetapi tinggal di kota satelit kayak Bogor, Depok, Bekasi, bisa menghabiskanwaktu bolak-balik di jalan lebih besar dari waktu kerja sehari. Kalau anda berangkat dari Bogor (Darmaga) dan kerja di Jakarta, maka butuh 3 jam waktu berangkat dan 3 jam untuk pulang, total 6 jam. Bandingkan dengan waktu kerja efektif pekerja biasanya dalam kisaran 5-6 jam dalam sehari.  Jadi waktu yg terbuang karena macet hampir sama besar dengan waktu kerja (waktu produktif) :D
Kerugian akibat kemacetan ini di Jakarta mencapai Rp 12,8 Trilun per tahun. Bayangkan uang sebesar itu hanya terbuang menjadi asap knalpot di jalanan.

Nah. . untuk mengurangi kemacetan ini.. entah dapat “wangsit” dari mana.. tanpa melakukan kajian/penelitian ilmiah terlebih dulu.. tiba-tiba Fauzi Bowo (Foke) dan jajarannya di Pemda DKI Jakarta merencanakan pembatasan Motor di jalan-jalan Jakarta pada jam-jam tertentu. Alasannya karena Motor dianggap biang kerok kemacetan. Huuhhh.. lagi-lagi rakyat kecil disalahin. Padahal mobil lebih boros pemakaian badan jalan karena ukurannya lebih besar. Satu mobil sebanding dengan 4 motor. Belum lagi isi penumpang mobil sering kita lihat hanya 1 orang. Jadi kebijakan ini jelas mengada-ngada dan merugikan rakyat kecil yang mengandalkan motor sebagai transportasi utama.
Lebih parahnya lagi, kebijakan ini akan mulai diberlakukan setelah lebaran 2010 ini, tanpa melalui proses sosialisasi dan meminta masukan dari masyarakat. Huhhh!
Solusi Mengurangi Kemacetan
Mengatasi kemacetan pada kota yang tata kota-nya telah berantakan seperti di Jakarta memerlukan solusi yang cerdas. Belajar lah ke negara-negara yang telah sukses mengurangi kemacetan, bukan hanya bisa studi banding ke eropa sambil belanja-belanja. Berikut beberapa solusi kemacetan yang saya rangkum :
  1. Menambah ruas jalan di perkotaan, sehingga laju pertumbuhan jalan bisa mengikuti jalan pertumbuhan jalan. Keterbatasan lahan untuk jalan jangan dijadikan alasan, karena jalan bisa dibangun melalui sistem terowongan atau jalan layang untuk kota yang lahan tanahnya terbatas. Bisa saja satu ruas jalan dibikin beberapa tingkat, ini yang dilakukan oleh pemerintah Jepang.
  2. Mengoptimalkan penggunaan kendaraan umum. Pemerintah punya kewajiban menyediakan fasilitas umum yang murah dan nyaman bagi masyarakatnya. Lakukan peremajaan terhadap bis-bis umum yang sudah tua, yang sering mogok dan menyebabkan kemacetan. Optimalkan operasional Busway sehingga daya angkut menjadi maksimal. Adopsi moda angkutan modern seperti monorel, subway, dan angkutan penumpang lainnya.
  3. Batasi kendaraan (mobil) pribadi yang hanya membawa satu penumpang. Ini membuat kepadatan jalan semakin besar dan menyebabkan kemacetan.
  4. Batasi usia kendaraan pribadi dan kendaraan umum. Kendaraan yang sudah tua sering mogok dan menyebabkan kemacetan. Selain itu, kendaraan tua menghasilkan polusi udara yang lebih parah. Usia kendaraan ideal maksimal 20 tahun.
  5. Ciptakan jalan khusus motor, sehingga pengguna motor yang notabene adalah masyarakat kecil tetap bisa beraktifitas dengan nyaman. Jalur motor ini dibangun di pinggir setiap jalan utama dan hanya butuh selebar 1,5 meter. Penyediaan jalur khusus motor ini telah dilakukan oleh pemerintah Malaysia, Thailand, Vietnam dan terbukti bisa mengurangi kemacetan. Selain itu berhasil menekan angka kecelakaan lalu lintas hingga 80%. Saat ini di Malaysia, angka kecelakaan motor hanya 1 orang untuk 1 tahun.. woww.
    Jalan Khusus Motor
    Jalan Khusus Motor
  6. Menyediakan ruang Advanced Stop Line (ASL) yaitu pada setiap persimpangan jalan, garis henti (stop line) ditarik mundur beberapa meter dan diberi warna beda (misalnya merah). Ruang tersebut digunakan oleh sepeda dan motor menunggu giliran lampu hijau.
    ASL
    Advanced Stop Line (ASL) berwarna merah
  7. Ciptakan jalur khusus pejalan kaki dan sepeda. Jalur pedestarian dan sepeda ini selain berfungsi untuk kenyamanan pekerja kantoran menuju tempat kerja, juga mendukung pendapatan pariwisata. Karena umumnya orang-orang asing (bule) lebih suka jalan kaki atau bersepeda menuju objek wisata. Ini yang sukses dilakukan oleh pemerintah Belanda.
    Jalur khusus Sepeda
    Jalur khusus Sepeda
So, pembatasan motor pada jalan-jalan di Jakarta tidak akan efektif mengatasi kemacetan. Masih banyak cara-cara lain seperti di atas yang bisa ditempuh Pemda DKI jika memang serius mengatasi kemacetan dan tetap adil untuk semua golongan masyarakat.

Minggu, 01 April 2012

pak penjual amplop di mesjid ITB.

     Setiap menuju ke Masjid Salman ITB untuk shalat Jumat saya selalu melihat seorang bapak tua yang duduk terpekur di depan dagangannya. Dia menjual kertas amplop yang sudah dibungkus di dalam plastik. Sepintas barang jualannya itu terasa “aneh” di antara pedagang lain yang memenuhi pasar kaget di seputaran Jalan Ganesha setiap hari Jumat. Pedagang di pasar kaget umumnya berjualan makanan, pakaian, DVD bajakan, barang mainan anak, sepatu dan barang-barang asesori lainnya. Tentu agak aneh dia “nyempil” sendiri menjual amplop, barang yang tidak terlalu dibutuhkan pada zaman yang serba elektronis seperti saat ini. Masa kejayaan pengiriman surat secara konvensional sudah berlalu, namun bapak itu tetap menjual amplop. Mungkin bapak itu tidak mengikuti perkembangan zaman, apalagi perkembangan teknologi informasi yang serba cepat dan instan, sehingga dia pikir masih ada orang yang membutuhkan amplop untuk berkirim surat.

      Kehadiran bapak tua dengan dagangannya yang tidak laku-laku itu menimbulkan rasa iba. Siapa sih yang mau membeli amplopnya itu? Tidak satupun orang yang lewat menuju masjid tertarik untuk membelinya. Lalu lalang orang yang bergegas menuju masjid Salman seolah tidak mempedulikan kehadiran bapak tua itu.

      Kemarin ketika hendak shalat Jumat di Salman saya melihat bapak tua itu lagi sedang duduk terpekur. Saya sudah berjanji akan membeli amplopnya itu usai shalat, meskipun sebenarnya saya tidak terlalu membutuhkan benda tersebut. Yach, sekedar ingin membantu bapak itu melariskan dagangannya. Seusai shalat Jumat dan hendak kembali ke kantor, saya menghampiri bapak tadi. Saya tanya berapa harga amplopnya dalam satu bungkusa plastik itu. “Seribu”, jawabnya dengan suara lirih. Oh Tuhan, harga sebungkus amplop yang isinnya sepuluh lembar itu hanya seribu rupiah? Uang sebesar itu hanya cukup untuk membeli dua gorengan bala-bala pada pedagang gorengan di dekatnya. Uang seribu rupiah yang tidak terlalu berarti bagi kita, tetapi bagi bapak tua itu sangatlah berarti. Saya tercekat dan berusaha menahan air mata keharuan mendengar harga yang sangat murah itu. “Saya beli ya pak, sepuluh bungkus”, kata saya.

Bapak itu terlihat gembira karena saya membeli amplopnya dalam jumlah banyak. Dia memasukkan sepuluh bungkus amplop yang isinya sepuluh lembar per bungkusnya ke dalam bekas kotak amplop. Tangannya terlihat bergetar ketika memasukkan bungkusan amplop ke dalam kotak.






       Saya bertanya kembali kenapa dia menjual amplop semurah itu. Padahal kalau kita membeli amplop di warung tidak mungkin dapat seratus rupiah satu. Dengan uang seribu mungkin hanya dapat lima buah amplop. Bapak itu menunjukkan kepada saya lembar kwitansi pembelian amplop di toko grosir. Tertulis di kwitansi itu nota pembelian 10 bungkus amplop surat senilai Rp7500. “Bapak cuma ambil sedikit”, lirihnya. Jadi, dia hanya mengambil keuntungan Rp250 untuk satu bungkus amplop yang isinya 10 lembar itu. Saya jadi terharu mendengar jawaban jujur si bapak tua. Jika pedagang nakal ‘menipu’ harga dengan menaikkan harga jual sehingga keuntungan berlipat-lipat, bapak tua itu hanya mengambil keuntungan yang tidak seberapa. Andaipun terjual sepuluh bungkus amplop saja keuntungannya tidak sampai untuk membeli nasi bungkus di pinggir jalan. Siapalah orang yang mau membeli amplop banyak-banyak pada zaman sekarang? Dalam sehari belum tentu laku sepuluh bungkus saja, apalagi untuk dua puluh bungkus amplop agar dapat membeli nasi.



      Setelah selesai saya bayar Rp10.000 untuk sepuluh bungkus amplop, saya kembali menuju kantor. Tidak lupa saya selipkan sedikit uang lebih buat bapak tua itu untuk membeli makan siang. Si bapak tua menerima uang itu dengan tangan bergetar sambil mengucapkan terima kasih dengan suara hampir menangis. Saya segera bergegas pergi meninggalkannya karena mata ini sudah tidak tahan untuk meluruhkan air mata. Sambil berjalan saya teringat status seorang teman di fesbuk yang bunyinya begini: “bapak-bapak tua menjajakan barang dagangan yang tak laku-laku, ibu-ibu tua yang duduk tepekur di depan warungnya yang selalu sepi. Carilah alasan-alasan untuk membeli barang-barang dari mereka, meski kita tidak membutuhkannya saat ini. Jangan selalu beli barang di mal-mal dan toko-toko yang nyaman dan lengkap….”.



Si bapak tua penjual amplop adalah salah satu dari mereka, yaitu para pedagang kaki lima yang barangnya tidak laku-laku. Cara paling mudah dan sederhana untuk membantu mereka adalah bukan memberi mereka uang, tetapi belilah jualan mereka atau pakailah jasa mereka. Meskipun barang-barang yang dijual oleh mereka sedikit lebih mahal daripada harga di mal dan toko, tetapi dengan membeli dagangan mereka insya Allah lebih banyak barokahnya, karena secara tidak langsung kita telah membantu kelangsungan usaha dan hidup mereka.

Dalam pandangan saya bapak tua itu lebih terhormat daripada pengemis yang berkeliaran di masjid Salman, meminta-minta kepada orang yang lewat. Para pengemis itu mengerahkan anak-anak untuk memancing iba para pejalan kaki. Tetapi si bapak tua tidak mau mengemis, ia tetap kukuh berjualan amplop yang keuntungannya tidak seberapa itu.

      Di kantor saya amati lagi bungkusan amplop yang saya beli dari si bapak tua tadi. Mungkin benar saya tidak terlalu membutuhkan amplop surat itu saat ini, tetapi uang sepuluh ribu yang saya keluarkan tadi sangat dibutuhkan si bapak tua



Kotak amplop yang berisi 10 bungkus amplop tadi saya simpan di sudut meja kerja. Siapa tahu nanti saya akan memerlukannya. Mungkin pada hari Jumat pekan-pekan selanjutnya saya akan melihat si bapak tua berjualan kembali di sana, duduk melamun di depan dagangannya yang tak laku-laku.


     
      Entah kenapa memang belakangan gw sering bgt solat di ITB..yaa karna ada urusan survei kerjaan di ganesha,tiap hari ketemu si bapak ini dijalan,sedikit share cerita aja yaa kawan :)